Bulan September tahun lalu, tepatnya
ketika bulan sudah mulai menunjukkan wujudnya.
“Kamu gak punya pacar apa? Kayanya setiap hari kerjamu hanya main komputer dan pergi dengan teman-teman lelakimu”
“Gak ah, ngapain pacaran. Repot. Aku mah mending php-phpin cewe aja. Gak repot dan keluar duit, lagian siapa cewe yang gak mau sama aku.”
Percakapan yang terjadi antara tanteku dan saudaraku
yang berusia satu tahun diatasku.
Memang dia bukanlah lelaki yang tergolong kurang
tampan, wajahnya hasil gabungan German dan Jawa, badannya tinggi, dia juga aktif dalam kegiatan
panitia kampus dan UKM.
Dengan keadaannya yang seperti itu, tidak heran jika sejak
SMP ada saja gadis yang berusaha mendekatinya.
Sebut saja
dia Nelson..
Nelson bukanlah orang yang mudah jatuh cinta. Sejak
kami masih memakai seragam putih-biru hingga putih-abu aku senang untuk
menanyakan perihal cewe yang dekat dengannya. Namun, jawaban dia sama saja
seperti bulan September tahun lalu. Dia menganggap jatuh cinta itu repot. Dia
senang untuk bercerita ke adikku mengenai teman-teman wanitanya yang cantik,
tapi dia tidak pernah menceritakan wanita yang benar-benar dia sukai.
Hingga akhirnya kami memasuki masa perkuliah dan aku
menemukan dia pulang dengan membawa se-bouqet bunga mawar yang dihias indah.“Semangat padus dan pelayanannya ya. :) –JR” begitulah isi pesan yang terdapat di dalam hiasan bunga itu. Saat itu akupun memprediksi bahwa dia
sedang jatuh cinta, karena tidak mungkin jika dia memberikan bunga yang
tergolong mahal itu kepada lelaki-kan? K
Naluri ingin tahukupun meledak-ledak dan aku langsung menghubungi sahabatku yang satu tempat kuliah dengan dia, dan…. Betul sekali! dia
mengkonvirm bahwa Nelson sedang dekat dengan seorang wanita.
Semenjak itu Nelsonpun berubah, orang yang biasanya
cuek dan ketus berubah menjadi sosok yang sedikit hangat dan romantis. Setiap
pulang kerja dia tidak lupa untuk menghubungi wanita yang dia suka tersebut.
Dia bela-belain telponan di depan kamar hanya demi tidak terdengar olehku,
padahal di diluar banyak nyamuk. Lalu dia juga sempat menghabiskan pulsa 200rb untuk
membeli quota dan menelpon gadisnya di bawah, karena nyamuk di bawah tidak sebanyak di atas.
Dia sempat mengeluh tidak ada uang karna habis makan
di tempat yang tergolong mevvah dengan wanitanya, tapi tidak ada penyesalan sama
sekali di wajahnya. Lebih tepatnya dia terlihat puas dan bahagia. Dengan
melihat pengorbanannya ini, aku semakin sadar bahwa benar saudaraku yang
biasanya memikirkan dirinya sendiri dan cuek ini sedang sangat jatuh cinta.
Dari semua pengorbanan itu, bagian yang paling
aku suka adalah ketika aku tidak sengaja melihat bagian depan dompetnya dan wallpaper handphonenya. Ada foto seorang
wanita terpasang disana. Bukan hanya di
hp dan dompetnya saja, di dp linenyapun terpasang foto dia dan wanitanya. Padahal wanitanya tidak memasang foto dengan dia, tapi dia tidak
memperdulikannya dan memilih untuk tetap memasangnya.
Hal simple
tapi aku bisa merasakan kehangatan di dalamnya. Saat seorang lelaki memilih memasang
dan memamerkan foto wanita yang disayanginya tanpa disuruh sehingga semua orang
tau bahwa dialah gadisnya. Siapa wanita yang tidak tersentuh hatinya?
Lelaki yang baru jatuh cinta memang lucu, sangat
tulus meskipun terkadang terlihat kekanak-kanakan dan alay. Saat-saat ngambek
karena cemburu, berkorban banyak hal sampe lupa sama diri sendiri, telponan
berjam-jam sembari membunuh malam, dan lain-lain. Tapi menurutku disitulah
essensinya, saat-saat seperti itulah yang tidak akan bisa terlupakan.
“Seberapapun
target hidup dan standart pasangan kamu, akan kalah ketika kamu jatuh cinta
tanpa alasan”
Aku sangat setuju
dengan kata-kata tersebut karena aku melihat semua buktinya di depan mata.
Seorang Nelson yang memiliki watak keras kepalapun kalah dengan segala omongan-omongannya sendiri
dan berakhir jatuh cinta. Longlast ya
koko Nelson. Godbless :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar