Sabtu, 30 Mei 2015

Malam Minggu.

"Selamat sabtu malam ya guys ;) "

Sabtu malam.
Kata pengganti yang digunakan oleh teman-temanku yang lajang dalam memberikan semangat satu sama lain. Iya semangat, semangat untuk melewati suatu malam yang biasa disebut "malam minggu".

"Malem ini lu kemana?"
"Ke daerah kemang atau menteng kali, gw pengen cobain resto dessert yang baru buka disana"
"ihhh seru banget ya, gw jadi envy"

Percakapan yang sering sekali aku dengar dari beberapa teman wanitaku yang sedang mengobrol. Aku akui bahwa dahulu sebelum aku memiliki pasangan, akupun senang untuk menanyakan hal tersebut kepada temanku yang merayakan malam minggu. Aku membayangkan betapa bahagianya mereka yang selalu diajak pacarnya untuk merayakan malam minggu bersama.

Tapi sekarang pikiranku sudah berubah, atau kita sebut saja berbeda.
Essensi kebahagiaan dalam sebuah hubungan bagiku bukan lagi seberapa sering mereka merayakan ritual malam minggu yang biasanya akan menghabiskan uang, melainkan seberapa hebat mereka menjadikan sebuah hal yang kecil dan sederhana sebagai kebahagiaan mereka.

Aku dan pacarku adalah pasangan yang tergolong mudah bahagia. Hal-hal kecil dan simple yang kami lakukan bisa membuat kami bahagia, dan tidak perlu menunggu malam minggu untuk membuat kami bahagia.

Dorong motor mogok dan harus jalan sampe pom bensin pas pdkt, bahagia.
Ngabisin malam di GOR, di tengah teman-temannya yang memiliki aroma menyegarkan, bahagia.
Minum milo sama makan kentang tengah malem di McD, bahagia.
Ujan-ujanan dan panas-panasan naik motor ke kampus/bekasi, bahagia.
Nunggu buat makan mangdut di tengah gigitan nyamuk dan waiting list 13 orang, bahagia.
Ngecover lagu sambil bertingkah gak jelas, bahagia.
Jalan kaki ke depan komplek dengan cuaca panas banget, bahagia.
Nyari burger blenger di blok M tapi akhirnya malah nyasar ke sate acong di Gading sampe pantat pegel banget, bahagia.
Nemenin kakaknya bikin kue dan ditungguin dia sampe jam setangah 3, bahagia.
Dibeliin minum pas ngeliat gw di kampus lagi jaga stand dan makan padang, bahagia.
Ditarik tangannya buat pegangan sama dia di motor, bahagia.

... dan masih banyak kebahagiaanku yang lainnya yang tidak dapat dituliskan disini karna saking banyaknya.

Mari kita bahas kekurangan dia...
Kekurangan pacarku adalah kepribadiannya yang terkesan keras. Sebenarnya bukan kepribadiannya yang keras, melainkan gaya bicaranya. Raut wajah dan nada bicaranya terkadang mudah membuat orang-orang 'terdekatnya' tersinggung. Perhatikan kata 'terdekatnya', brarti yang aku maksud adalah orang-orang yang sudah dekat dengan dia, jika kamu tidak begitu dekat maka kamu tidak akan melihat gaya bicara dan rawut muka itu darinya.

Aku sempat beberapa kali badmood karna cara bicaranya itu, namun aku bersyukur dia adalah tipe orang yang peka kalau aku tidak suka dengan cara bicaranya. Biasanya dia akan minta maaf atau memainkan hidungku dan mengajakku bercanda lagi. Seseorang tidak akan berubah dengan instan, harus ada proses di dalamnya untuk berubah dan aku melihat perubahan itu dalam cara bicaranya akhir-akhir ini. Menurutku itu lebih membahagiakan daripada merayakan malam minggu di setiap minggunya.

Jadi menurut aku, gak perlu nunggu malam minggu dan merayakan itu di setiap minggunya untuk bahagia, cukup bersyukur aja sama yang udah kita punya sekarang dan jadikan hal-hal yang dilakukan bersama adalah sesuatu yang berharga.  Maka bahagia sudah pasti dalam genggaman :)

Kamis, 21 Mei 2015

Si Jutek.

Aku : jadi? aku pulang sama kamu apa sama B? 

(B yang merupakan salah satu teman dekatku serta teman pulang/pergiku ke kampus)

Dia : sama B saja, gpp kok
Aku : *terdiam* baiklah.....
Dia : kamu kalo mau pulang sama aku bilang aja, jangan tanya terus. Tinggal bilang aja "Aku pulang sama kamu ya" Gak usah kode-kode.
--------------------------------------------
kasus 1 :

*line masuk setelah gak di chat seharian*

Dia : sayaangggg, kamu lagi apa?
Aku : lagi ini nih, kamu?
Dia : lagi ini nih, blablabla
*chat berlangsung  5 menit/10 menit/ 15 menit*
Dia : aku cash hp dulu ya dadahh bocahhh

kasus 2 :
*line masuk*
Dia : bibeeh, bocah, sayanggg lagi apa kamuu? Gak kangennn?
Aku : iyaaa blablablabla
*chat stngah jam/45 menit*
Dia : yaudah aku basketan dulu ya yang, aku gak bawa hpppp. love you sayangggg

*pulang basket/main sama temen*
Dia : bocah aku udah pulangggg
Aku : yaudah sana cucicuci dulu gihhh
*chat blablabla sekitar 30 menit/15 menit*
Dia : bobo yukk yanggg, antuksss
Aku : iyaaa good night, iloveyou dll
Dia : loveyou tooo blablabla
--------------------------------------------
Aku : yang, aku pengen makan ininihhhhh.....
Dia : nanti aja tunggu sempet sama waktu yang tepat blablabla...
Aku : *manyun*
Dia : apa kamuuuu *cubit-cubit, ajak bercanda*
Baikan..........

*2minggu atau seminggu atau mungkin sebulan kemudian*
*berantem karna dia buat kesalahan*
Dia : *jemput* ayukkk makan ini, kamu kan pengen ini blablablabla 
*ngerayu makanan yang aku ngidamin dari kapan tau. dan ngisengin, jailin, minta maaf, aja bercanda*
Baikan..........
--------------------------------------------

Romantis? Aku rasa bukan kata yang tepat menggambarkan sifat kamu jika dibandingkan dengan persepektif romantis orang lain. Pernyataan yang mungkin akan dilontarkan orang kepada kamu adalah ketus.

Tapi aku percaya bahwa setiap kejadian mengajarkan sesuatu.

Kejadian satu mengajarkan aku untuk berani meminta. Kamu tahu sifat dasarku adalah "gak enakan" sehingga sering membuat kamu ngedumel sendiri "apasih kamu, kaku aja kaya sama siapa". Yang aku tau disini kamu mau aku tidak menganggap kamu orang lain lagi sehingga aku tidak perlu merasa tidak enak kepada kamu.

Dari kasus satu dan kasus dua aku belajar banyak tentang pribadimu. Orang yang tidak akan berhenti bicara saat bertemu, tidak berhenti menjahili dan ngejayus sehingga membuat aku tersenyum terus ini adalah orang yang tidak suka membodohi diri dengan gadget. Disaat orang-orang autis dengan gadget mereka, baik untuk membangun hubugan dengan sosmed atau mungkin berselingkuh, lelaki pilihanku lebih memilih untuk menyibukkan diri dengan bersosialisasi dengan dunia nyata. Aku juga jadi belajar untuk tidak melandasi hubungan ini dengan hubungan gadget,  toh yang nyata jauh lebih enak.

Dari kejadian tiga aku belajar untuk menunggu. Aku sadar nanti aku akan menjadi seorang istri, baik itu dengan dirimu ataupun orang lain nanti hehe. Sadar bahwa seorang istri tidak boleh egois dan memiliki sifat "apa yang aku mau harus terkabul", maka kamu mengajarkan aku menunggu. 

Keketusan yang menurut orang lain adalah kekuranganmu sebagai seorang pria, tidak aku pandang sebagai suatu kekurangan. Aku lebih suka menyebutnya "pelengkap" karena ternyata semua yang terlihat kurang dari dirimu diam-diam melengkapi dan menyempurnakan aku :)

Hebatnya kamu adalah kamu bisa membuat aku dan teman-temanku merasakan sayangnya kamu ke aku tanpa perlu bersikap manis dan lebay terhadap diriku. Hehe :)
------------------------------------------------------

Tapi inget ya yang, smua yang ditawarkan itu terlihat lebih tulus daripada harus diminta. Jadi kapan-kapan kamu harus nawarin juga ya dan kalo sejadwal ya jangan suruh aku pulang sama yang lain dong! Terus aku gpp kamu gak pegang hp tapi jangan lupa kabarin yaaa! hahaha iloveyou :p

Iya, aku salah.

Aku sudah bertanya-tanya puluhan bahkan ribuan kali. "Ini nyata? Apakah aku benar-benar menjadi pribadi yang seperti ini?" Setelah...