Sabtu malam.
Kata pengganti yang digunakan oleh teman-temanku yang lajang dalam memberikan semangat satu sama lain. Iya semangat, semangat untuk melewati suatu malam yang biasa disebut "malam minggu".
"Malem ini lu kemana?"
"Ke daerah kemang atau menteng kali, gw pengen cobain resto dessert yang baru buka disana"
"ihhh seru banget ya, gw jadi envy"
Percakapan yang sering sekali aku dengar dari beberapa teman wanitaku yang sedang mengobrol. Aku akui bahwa dahulu sebelum aku memiliki pasangan, akupun senang untuk menanyakan hal tersebut kepada temanku yang merayakan malam minggu. Aku membayangkan betapa bahagianya mereka yang selalu diajak pacarnya untuk merayakan malam minggu bersama.
Tapi sekarang pikiranku sudah berubah, atau kita sebut saja berbeda.
Essensi kebahagiaan dalam sebuah hubungan bagiku bukan lagi seberapa sering mereka merayakan ritual malam minggu yang biasanya akan menghabiskan uang, melainkan seberapa hebat mereka menjadikan sebuah hal yang kecil dan sederhana sebagai kebahagiaan mereka.
Aku dan pacarku adalah pasangan yang tergolong mudah bahagia. Hal-hal kecil dan simple yang kami lakukan bisa membuat kami bahagia, dan tidak perlu menunggu malam minggu untuk membuat kami bahagia.
Dorong motor mogok dan harus jalan sampe pom bensin pas pdkt, bahagia.
Ngabisin malam di GOR, di tengah teman-temannya yang memiliki aroma menyegarkan, bahagia.
Minum milo sama makan kentang tengah malem di McD, bahagia.
Ujan-ujanan dan panas-panasan naik motor ke kampus/bekasi, bahagia.
Nunggu buat makan mangdut di tengah gigitan nyamuk dan waiting list 13 orang, bahagia.
Ngecover lagu sambil bertingkah gak jelas, bahagia.
Jalan kaki ke depan komplek dengan cuaca panas banget, bahagia.
Nyari burger blenger di blok M tapi akhirnya malah nyasar ke sate acong di Gading sampe pantat pegel banget, bahagia.
Nemenin kakaknya bikin kue dan ditungguin dia sampe jam setangah 3, bahagia.
Dibeliin minum pas ngeliat gw di kampus lagi jaga stand dan makan padang, bahagia.
Ditarik tangannya buat pegangan sama dia di motor, bahagia.
... dan masih banyak kebahagiaanku yang lainnya yang tidak dapat dituliskan disini karna saking banyaknya.
Mari kita bahas kekurangan dia...
Kekurangan pacarku adalah kepribadiannya yang terkesan keras. Sebenarnya bukan kepribadiannya yang keras, melainkan gaya bicaranya. Raut wajah dan nada bicaranya terkadang mudah membuat orang-orang 'terdekatnya' tersinggung. Perhatikan kata 'terdekatnya', brarti yang aku maksud adalah orang-orang yang sudah dekat dengan dia, jika kamu tidak begitu dekat maka kamu tidak akan melihat gaya bicara dan rawut muka itu darinya.
Aku sempat beberapa kali badmood karna cara bicaranya itu, namun aku bersyukur dia adalah tipe orang yang peka kalau aku tidak suka dengan cara bicaranya. Biasanya dia akan minta maaf atau memainkan hidungku dan mengajakku bercanda lagi. Seseorang tidak akan berubah dengan instan, harus ada proses di dalamnya untuk berubah dan aku melihat perubahan itu dalam cara bicaranya akhir-akhir ini. Menurutku itu lebih membahagiakan daripada merayakan malam minggu di setiap minggunya.
Jadi menurut aku, gak perlu nunggu malam minggu dan merayakan itu di setiap minggunya untuk bahagia, cukup bersyukur aja sama yang udah kita punya sekarang dan jadikan hal-hal yang dilakukan bersama adalah sesuatu yang berharga. Maka bahagia sudah pasti dalam genggaman :)