"Alex ganteng ya."
"Iya, harusnya orang ganteng jadiannya sama cewe cantik ya."
"Bodo amat, yang penting kenyataannya dia milih gw kan?""Lah emang kenapa dia milih lu? karena dia gak dapet *piip*"
Biasanya, akhir dari percakapan yang seperti itu adalah tawaan ringan dan wujud pembelaan saya yang tidak terlihat.
Percakapan seperti itu tidak terjadi hanya sekali, tapi beberapa kali sehingga membuat saya mulai berpikir dengan tidak jernih. Memang saat itu saya tertawa, memang saat itu saya menanggapi dengan biasa saja, tapi saat saya berdua saja dengan pasangan saya maka saya bisa tiba-tiba badmood dan cemburu buta. Bukan cemburu buta karena takut pasangan saya kembali lagi ke masa lalunya, tapi lebih ke arah minder sama diri sendiri.
Jaman-jaman minder saya lewatin dengan perasaan yang sangat amat tidak nyaman! Saya seperti orang bodoh. Nge-stalk social media wanita, ngedumel sama diri sendiri, dan terus menyesesali apa yang wanita itu punya, tapi saya tidak punya.
Dampak yang paling terasa dari sifat jelek saya saat itu ada di hubungan saya. Kami jadi sering bertengkar, saya bisa tiba-tiba jadi badmood lagi kalo ingat mereka, ngambek-ngambek gak jelas, padahal gak ada gunanya juga.
Sampai akhirnya ada kalimat yang menegur saya sampai yang paling dalam...
"Rendah hati artinya posisinya ada di tempat tinggi tapi hatinya tetap sama. Tinggi hati artinya hatinya lebih tinggi daripada tempat seharusnya dimana ia berada.
Orang penting yang berlaku biasa saja pasti akan tetap dipentingkan karena memang ia penting.
Orang yang belum sepenting itu tetapi berlaku seakan-akan sudah penting biasanya malu belakangan karena akan ada orang lain yang lebih penting.
Paling enak kalo hati biasa-biasa aja. Kalo dipentingin sukur. Gak dipentingin juga gakpapa. Lebih enak mikirin hidup biar lebih berarti daripada cuma sibuk mau keliatan penting." -MS
Saya akhirnya mengakui dan menyadari satu hal, selama ini saya bersikap seperti anak kecil karena ingin diakui penting, terutama lebih penting dari masa lalunya. Padahal dia sudah memperlakukan saya selayaknya wanita yang paling penting buat dia, namun saya tidak melihatnya. Yang saya lakukan hanyalah terus mencari pembenaran diri saya akan keminderan saya, padahal kebenaran-nya saya memang penting untuk dia.
Kebenaran : Bersifat absolut. Terkadang sulit diterima oleh orang yang membutuhkannya. Bisa dirasakan oleh orang sekitar.
Pembenaran : Merasa benar atau gak salah-salah amat padahal dalam hati udah tau salah.
Dari situ saya mulai sadar bahwa gak ada gunanya menyibukkan diri buat jadi penting di mata orang apalagi sampe minder sama diri sendiri. Toh dia pilih saya, dia sayang saya, dia gak pernah nyerah sama hubungan kita, berarti saya memang penting buat dia. Kalo memang saya penting orang lain juga bisa melihatnya tanpa perlu saya bilang 'saya penting' kan? Hehehe.
Kalo soal takut kehilangan saya juga sudah tidak takut lagi, kalo saya penting maka saya tidak akan ditinggal :)