Kamis, 01 September 2016

Iya, saya se- CAPER itu :)

Mari kita mulai cerita ini dengan masa lalu yang sempat mampir dihidup saya beberapa tahun yang lalu.

Pagi itu hujan turun dengan merdu, mengiringi jejak langkah anak perempuan tingkat 2 SMP pergi ke gedung tua yang akrab disebut sekolah.

Perasaan saya pagi itu tidak selaras dengan merdunya suara hujan yang turun. Yah.. Jika ingin diselaraskan, yang selaras dengan hujan pagi itu adalah air mata yang membasahi pipi saya usai pertengkaran kita malam sebelumnya.


Sesampainya di sekolah, saya bergegas menaruh tas di tempat duduk saya dan mengeluarkan sebuah buku bergambarkan Snoppy yang saya beli dengan tujuan untuk menjadi buku harian saya.

Saat itu masalah kita tidak sebesar itu sehingga tidak diperlukan kata “Maaf ya, jangan tinggalin aku.” 

Toh saya juga tau saat itu kamu tidak akan meninggal saya karena memang tidak ada masalah serius antara kita. Kita hanya bertengkar karna hal remeh temeh yang saya sendiri lupa kenapa, yang saya tau tidak sampai memerlukan maaf untuk menyelesaikannya.

Hanya saja, saya tidak tau bagaimana caranya memulai suatu percakapan perdamaian yang pantas untuk dikatakan oleh dua sejoli yang sedang bertengkar karna masalah yang bukan apa-apa.

Saya hanya bisa menyusun rencana untuk mencari perhatian dia, atau anak-anak sekarang lebih sering menyebutnya “caper”.

Saya memberanikan diri pergi ke kelasmu dengan membawa buku snoppy yang sudah saya bawa dan duduk di tempat duduk yang sudah dipilihkan wali kelas untukmu. Saya menunggumu dengan kepala tertunduk di atas meja dan perasaan gelisah mengiringi detik jam saat itu.

“Aduh nanti harus ngomong apa? Aduh nanti suruh dia nulis biodata aja kali ya? Bilang aja buat tugas, yang penting bisa ngobrol lagi. Arghhh gimana nih!!”

Pikiran itu terus berputar lagi dan lagi di dalam kepala saya. Berbagai skenario sudah saya susun dengan sedemikian rupa supaya saya dan kamu bisa berbaikan.

-
“Hei, kok disini? Kamu kenapa?”

“ em, anu itu.. apa ya. Oh iya kamu boleh gak tulis tentang Arsenal di buku aku ini?” (kamu sangat menyukai klub sepak bola itu)

“Arsenal? Buat apa?”

“Ituloh.. kk gereja aku ada yang suka arsenal. Aku pengen tau aja, jadi kalo dia ada kuis aku bisa jawab”

“Oh yaudah sini aku tulisin. Abis itu balik ke kelas kamu, udah mau bel tau. Tadi kenapa nunduk? Sakit?”

Dsb~
-

Iya… Sesimple itu kita berbaikan. Se-caper itu saya untuk berbaikan dengan kamu yang saat itu mengisi relung jiwa yang akrab dikenal dengan nama bahagia. Bahkan jika boleh jujur, saya sama sekali tidak perduli dengan apa yang kamu tulis di buku itu, yang terpenting adalah kita berbaikan kembali. :) 

ini buktigoresan pena yang tertulis saat itu

Eitz,

Tapi tunggu dulu, maksud saya menulis tulisan ini bukan untuk mengajak orang lain untuk tidak meminta maaf..

Saat  itu, masalah saya dan dia tidak sebesar itu untuk menggunakan kata maaf. Sehingga saya memilih untuk menggunakan teknik caper  atau sama saja ”menyapa dengan menganggap tidak pernah terjadi apa-apa”. 

Hal itu karena saya tau bahwa masalah itu tidak sebesar itu untuk bermaaf-maafan yang berlebihan.

Namun, dimasa sekarang ini banyak orang yang menggunakan trik caper tersebut dalam menghadapi masalah yang memang besar atau seharusmya diselesaikan dengan bijak. 

Jika hal itu terus dilakukan yang ada bukan membangun hubungan, malah menghancurkan hubungan yang sudah dibangun dengan susah payah tersebut.

Umur makin bertambah, cermat-cermatlah dalam menghadapi masalah. Minta maaflah sehikmatNya, karena kalo kita kebanyakan minta maaf yang ada malah orang yang salah tidak intropeksi dirinya. Makanya sehikmatNya, biar tau kapan kita dengan tidak sengaja sudah menyakiti perasaan orang lain.

Kadang butuh rasa peka untuk menjaga suatu hubungan.

Jangan mau dingertiin kalo pribadi kita aja gak mau ngertiin orang lain.

Dulu saya orang yang selalu  berada di posisi “peminta maaf”. Namun,sekarang sudah tidak.  Saya sadar saya harus membuat orang disekitar saya juga belajar untuk menghargai orang lain. Saya tidak boleh memanjakan mereka dengan maaf yang otomatis tanpa menegur jika mereka menyakiti saya, tentu tegurnya dengan kasih ya.

Kalo udah ditegur masih begitu? Yah…. cukup tau. Berubah mah mesti doronngan dari pribadi masing-masing. Gak bisa dipaksa.

Minta maaf itu gratis, jangan dimahal-mahalin.

“ Seperhitungan itukah kamu untuk membagikan sesuatu yang kamu dapat bagikan secara gratis?"

2 komentar:

Iya, aku salah.

Aku sudah bertanya-tanya puluhan bahkan ribuan kali. "Ini nyata? Apakah aku benar-benar menjadi pribadi yang seperti ini?" Setelah...