Mari kita mulai cerita ini dengan masa lalu yang
sempat mampir dihidup saya beberapa tahun yang lalu.
Pagi itu hujan turun dengan merdu, mengiringi jejak
langkah anak perempuan tingkat 2 SMP pergi ke gedung tua yang akrab disebut
sekolah.
Perasaan saya pagi itu tidak selaras dengan merdunya
suara hujan yang turun. Yah.. Jika ingin diselaraskan, yang selaras dengan
hujan pagi itu adalah air mata yang membasahi pipi saya usai pertengkaran kita
malam sebelumnya.
Sesampainya di sekolah, saya bergegas menaruh tas di tempat duduk saya dan mengeluarkan sebuah buku bergambarkan Snoppy yang saya beli dengan tujuan untuk menjadi buku harian saya.
Saat itu masalah kita tidak sebesar itu sehingga
tidak diperlukan kata “Maaf ya, jangan tinggalin aku.”
Toh saya juga tau saat itu kamu tidak akan meninggal
saya karena memang tidak ada masalah serius antara kita. Kita hanya bertengkar
karna hal remeh temeh yang saya sendiri lupa kenapa, yang saya tau tidak sampai
memerlukan maaf untuk menyelesaikannya.
Hanya saja, saya tidak tau bagaimana caranya memulai
suatu percakapan perdamaian yang pantas untuk dikatakan oleh dua sejoli yang
sedang bertengkar karna masalah yang bukan apa-apa.
Saya hanya bisa menyusun rencana untuk mencari
perhatian dia, atau anak-anak sekarang lebih sering menyebutnya “caper”.
Saya memberanikan diri pergi ke kelasmu dengan membawa
buku snoppy yang sudah saya bawa dan duduk di tempat duduk yang sudah
dipilihkan wali kelas untukmu. Saya menunggumu dengan kepala tertunduk di atas meja
dan perasaan gelisah mengiringi detik jam saat itu.
“Aduh nanti harus ngomong apa? Aduh nanti suruh dia
nulis biodata aja kali ya? Bilang aja buat tugas, yang penting bisa ngobrol
lagi. Arghhh gimana nih!!”
Pikiran itu terus berputar lagi dan lagi di dalam
kepala saya. Berbagai skenario sudah saya susun dengan sedemikian rupa supaya saya
dan kamu bisa berbaikan.
-
“Hei, kok
disini? Kamu kenapa?”
“ em, anu itu.. apa ya. Oh iya kamu boleh gak tulis
tentang Arsenal di buku aku ini?” (kamu sangat menyukai klub sepak bola itu)
“Arsenal? Buat apa?”
“Ituloh.. kk gereja aku ada yang suka arsenal. Aku
pengen tau aja, jadi kalo dia ada kuis aku bisa jawab”
“Oh yaudah sini aku tulisin. Abis itu balik ke kelas
kamu, udah mau bel tau. Tadi kenapa nunduk? Sakit?”
Dsb~
-
Iya… Sesimple itu kita berbaikan. Se-caper itu saya
untuk berbaikan dengan kamu yang saat itu mengisi relung jiwa yang akrab
dikenal dengan nama bahagia. Bahkan jika boleh jujur, saya sama sekali tidak
perduli dengan apa yang kamu tulis di buku itu, yang terpenting adalah kita
berbaikan kembali. :)
| ini buktigoresan pena yang tertulis saat itu |
Eitz,
Tapi tunggu dulu, maksud saya menulis tulisan ini
bukan untuk mengajak orang lain untuk tidak meminta maaf..
Saat itu,
masalah saya dan dia tidak sebesar itu untuk menggunakan kata maaf. Sehingga
saya memilih untuk menggunakan teknik caper
atau sama saja ”menyapa dengan menganggap tidak pernah terjadi apa-apa”.
Hal itu karena saya tau bahwa masalah itu tidak sebesar itu untuk
bermaaf-maafan yang berlebihan.
Namun, dimasa sekarang ini banyak orang yang
menggunakan trik caper tersebut dalam menghadapi masalah yang memang besar atau
seharusmya diselesaikan dengan bijak.
Jika hal itu terus dilakukan yang ada
bukan membangun hubungan, malah menghancurkan hubungan yang sudah dibangun
dengan susah payah tersebut.
Umur makin bertambah, cermat-cermatlah dalam
menghadapi masalah. Minta maaflah sehikmatNya, karena kalo kita kebanyakan
minta maaf yang ada malah orang yang salah tidak intropeksi dirinya. Makanya
sehikmatNya, biar tau kapan kita dengan tidak sengaja sudah menyakiti perasaan
orang lain.
Kadang butuh rasa peka untuk menjaga suatu hubungan.
Jangan mau dingertiin kalo pribadi kita aja gak mau
ngertiin orang lain.
Dulu saya orang yang selalu berada di posisi “peminta maaf”. Namun,sekarang
sudah tidak. Saya sadar saya harus
membuat orang disekitar saya juga belajar untuk menghargai orang lain. Saya
tidak boleh memanjakan mereka dengan maaf yang otomatis tanpa menegur jika
mereka menyakiti saya, tentu tegurnya dengan kasih ya.
Kalo udah ditegur masih begitu? Yah…. cukup tau.
Berubah mah mesti doronngan dari pribadi masing-masing. Gak bisa dipaksa.
Minta maaf itu gratis, jangan dimahal-mahalin.
“ Seperhitungan itukah kamu untuk membagikan sesuatu yang kamu dapat bagikan secara gratis?"
Bagus Mel..keren
BalasHapusthank you bapakkkk :) siapa dulu dosennya he he he :D
Hapus