Kamis, 11 Mei 2017

diurutan yang kesekian....

Jika tingkat keegoisan tidak dibatasi oleh resiko penolakkan, mungkin aku akan jadi orang yang paling egois di seluruh dunia.

Semua orang pasti punya rasa egois,
keegoisan akan sesuatu,
keegoisan akan waktu,
keegoisan akan kasih sayang,
dan keegoisan lainnya.

Aku bukan orang yang (diperbolehkan) egois.
Sejak kecil aku terbiasa menjadi orang yang berada diurutan yang kesekian.
Bukan yang pertama,
Bukan juga yang terpenting.
Sehingga aku (seharusnya) kebal dengan kenyataan bahwa aku bukan yang terpenting.

Lingkungan selalu menunjukkan padakku bahwa aku tidak bisa jadi yang terutama.
Baik keluarga, pertemanan, dan...... lain-lain.
Selalu ada hal lain atau orang lain yang lebih penting daripada aku.

Entah aku yang tidak bersyukur, atau memang itu adanya.
Hatiku terlalu takut untuk mengenalisis tingkat kepentingan diriku pada hidup seseorang.

Aku terlalu takut kecewa.
Dengan kenyataan bahwa aku berada di urutan yang kesekian (lagi).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Iya, aku salah.

Aku sudah bertanya-tanya puluhan bahkan ribuan kali. "Ini nyata? Apakah aku benar-benar menjadi pribadi yang seperti ini?" Setelah...