Hah... terlintas berkali-kali pernyataan yang mempertanyakan apasih bahagia itu. Banyak hal yang terus melewati pikiran gw dan membuat gw kembali akan masa-masa dimana gw pernah mengalami masa-masa yang ngebuat gw gak bisa tidur saking senengnya.
-Bahagia itu saat sms gw dibales sama cowo yang gw suka-
-Bahagia itu saat gw dapet hp baru-
-Bahagia itu saat gw dapet nilai yang baik padahal gw gak belajar-
-Bahagia itu saat gw dapet gadget baru-
-Bahagia itu saat gw dibayarin makan-
Kebanyakan kebahagiaan itu diungkapkan dengan cara yang seperti itu. Jarang bahkan mungkin hampir tidak ada orang yang mendeskripsikan kebahagiaan seperti :
-Bahagia itu saat gw bales sms cowo yang suka sama gw padahal gw gasuka sama dia-
-Bahagia itu saat gw kasih orang hp-
-Bahagia itu saat gw dapet nilai jelek karena gw gak belajar-
-Bahagia itu saat gw kasih orang gadget baru-
-Bahagia itu saat gw bayarin orang makan-
Jarang sekali ditemui yang seperti ini di masyarakat kita sekarang ini. Rata-rata kebahagiaan seseorang karena didasari oleh pemenuhan kebutuhan diri sendiri. Kebahagiaan orang-orang sekarang ini lebih banyak dikarenakan apa yang terbaik terjadi buat dia, bukan buat orag lain. Tapi gw ada sebuah kutipan yang menarik dari bahan UAS Agama&Etika di kampus gw. Gw mengutip teori Utilitarianisme :
Inti dari teori ini adalah dia bahagia maka saya bahagia. Jarang banget diliat dari jaman sekarang ini orang mikirin orang lain dulu baru diri sendiri. Dan kembali lagi gw teringat sama kotbah yang gw denger minggu lalu. Pendetanya mengatakan kunci dari panjang umur dan hidup bahagia itu adalah memikirkan orang lain.kebahagiaan tidak saja dilihat dari kepentingan pelaku (saya bahagia) tetapi kebahagiaan semua orang yang menjadi dampak tindakan berguna seorang pelaku(mereka juga bahagia).
Kalo kamu? Lebih milih mikirin diri sendiri terus apa coba buat memikirkan orang lain? Bukannya lebih bahagia menjadi pemberi daripada hanya terus menerima ? :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar